Selasa, Juli 21, 2009

Bom pun...tak patahkan semangatmu...



"Ada bom lagi di Jakarta", itulah kata pertama yang aku dengan dari temenku jum'at lalu.

"Dimana?", sibuk
akupun bertanya-tanya.
"Di Kuningan , di Jw.Marriot lagi", temenku pun menjelaskan s
epengetahuan dia setelah mendapat kabar dari adiknya.

Aku buru-buru buka internet, pengin tahu lebih lanjut berita itu......yach error. Sering banget deh, internet error.
Sebel banget kan kal
o lagi penting begini. Bisa ketinggalan berita deh.
Seharian aku cari-cari informasi, baik di internet dan tv, tak mau ketinggalan berita mengejutkan itu. 9 orang dinyatakan tewas dan puluhan lainnya luka-luka
.
Sungguh menginggalkan duka yang sangat mendalam bagi korban dan keluarganya.
Biadab bener orang yang telah melakukan itu. Tak kasihan mereka sama anak anak kecil yang kelihangan bapak ibunya.

Mudah-mudahan Allah tetap memberikan kesabaran bagi para korban dan keluarganya atas cobaan ini.

Hari sabtunya dengan perasaan takut dan was was aku ke Jakarta, mau cari gaun dan kado buat anak bosku yang mau married tgl 2 agustus nanti.

Keliling ke ITC Mangga Dua cuma dapet capek doang, tak dapet yang kucari, m
alah dapet yang tas dan dompet yang diluar budget.
Kami pun berpikir untuk mencari ke tempat lain, tapi kemana ya? Temenku tlp minta pendapat suaminya dan ada ide untuk cari di Kelapa Gading.
Mobilpun meluncur ke Mall Artha Gading. Kelalang keliling...tak dapat jua yang dimaksud.
Ada sih tapi dananya nggak mencukupi, maklum cari kado buat yg berlevel serba salah, yang murah, takut nggak kepake, yang mahal..., enggak da dana. Pusing.

Akhirnya kami pun puter haluan dan berencana mancari ke Mall Kelapa Gading.
Cukup macet juga jalan kesana malem - malen gini. Waktu itu udah jam 7 lewat.
Pas lewat samping mall....waduh kok gelap. Mati lampu? Di Mall segede ini mati lampu dan nggak ada genset ataupun lampu emergency yg nyala.?

Bulu kudukku jadi merinding
..ihhhh takuuuut.
"Pulang deh....pulang aja", spontan ku lontarkan kata itu.
Terbanyang ketakutan jika ada bom meledak disitu....ihhhh Nauzubillahi min dhalik deh.. Jangan sampe itu terjadi.

Tak lama telpku berbunyi...
"Hallo..mama dimana? Papa lagi nengok Bu Ari di PMI, dia lagi sakit, katanya flu babi", suara suamiku dari seberang sana.

"Flu babi? Kok bisa? Emang dia dari luar negeri?", akupun heran.

"Enggak sih, dia habis reunian sama temen-temennya, nah temennya ada yang abis dari luar negeri",kata suamiku menjelaskan.
"Tapi sudah negatif kok",lanjutnya.
"O..ya udah, mama bentar lagi pulang. Paling jam 8 deh dari sini", lalu kututup telephonku.


Setelah kelalang keliling tak jua dapet hasil, kamipun pulang. Besok lagi deh carinya...di Bogor aja, pikirku. Was was soalnya udah malem.

Sesampainya dirumah suamiku udah menunggu di depan. Basa-basi ku tanya lagi soal bu Ari dan kondisi
nya.
"Oh...ya, pak Dadang tuh ternyata korban bom juga lho..." suamiku memberitahu.
"Pak Dadang? Papanya Kanza? Emang dia kerja disana?", pertanyaanku memberondong suamiku.

Ya ampuuuun, maklum kuli kerja, berangkat pagi pulang malem, tetangga kena musibah pun ketinggalan berita.

"Iya, dia kerja di sana. Katanya sih mukanya abis, gosong", tutur suamiku menjelaskan. "Dia dirawatnya di RSPP"

Campur aduh perasaanku,mendengar berita itu. Sedih, kasihan, mau nangis jadi satu. Kebanyang istri dan anak-anaknya. Betapa tidak anaknya masih kecil umur sekitar 5 dan 3 tahu
n. Dan juga pastinya butuh waktu lama buat nyembuhin luka bakarnya.
Pak Dadang Hidayat itu tetanggaku, satu RT, satu blok dan beda sekitar 10 rumah dari rumahku. Aku cuma bisa berdo'a mudah-mudahan mereka diberi ketabahan. Amin.


Senin pagi...

Ada edaran keropak, buat sumbangan Pak Dadang yang sedang kena musibah.
Aku pun ikut partisipasi , solidaritas antar tetangga. Rencananya kami akan nengok nanti sore. Tapi sayang aku belum pulang waktu mereka berangkat.


Selasa malem...
Pak
Rizki, tetanggaku yang lain main kerumah ada urusan dengan suamiku. Ngobrol sana sini , aku tak terlalu peduli. Tapi telingaku jadi tajam waktu dia sebut-sebut nama Pak Dadang. Akupun ndengerin dari balik kamar depan dengan serius, computer pun langsung aku matikan supaya tak mengganggu pendengarku.

"Iya, aku ngombrol lewat aiphone dengan Pak Dadang, dia tetap semangat, aku yang tadinya sedih mau nangis jadi ikutan ketawa, dengering suaranya yang tegar" kata Pak Rizqi, menceritakan betapa
tegar, tabah dan semangat Pak Dadang tak berkurang meskipun mukanya hitam legam, hangus kena Bom.
Dia malah bercerita tentang tidak bisa ikut main footsal utk sekarang ini, dia juga bercerita kalau dikasih baju dan sepatu bola original oleh bossnya.
Tentang kekecewaannya karena MU club bola kesayangannya nggak jadi datang ke Indonesia.
Dan juga tentu saja tentang bom yang mengenai dirinya. Dia melihat orang bertopi dan beransel berjalan menuju longue, tempat biasa boss boss sarapan pagi sambil berbisnis.
Ciri-ciri orangnya persis seperti yang ku lihat di rekaman CCtv yg kulihat di berita-berita.
Dia menyuruh Evert salah satu anak buahnya (ya
ng akhirnya ditemukan meninggal dunia) untuk menahan supaya orang tsb tidak masuk ke longue itu tanpa izin.
Dia bilang mau ketemu bossnya. Pak Dadang berniat untuk melapor ke atasannya lagi (Pak Dadang adalah supervisor yang bertanggung jawab di loby bawah, cuma aku nggak tahu bagian apanya), sekitar 4 meter dari kejadian lalu BOOOM.....bom itupun meluluh lantahkan yang ada disekitarnya. Bayangan anak-anak melintas pertama kali dibenaknya setelah kejadian sesaat itu.
Dia berusaha merangkak dibalik timbunan gibsum dan langit-langit loby hotel yang runtuh. Masih setengah sadar sebelum dua menemukan sebuah lubang yang dia pikir itu pintu.
Suara orang meneriakinya supaya tidak keluar dari lubang itu....dan ternyata lubang itu adalah jendela bukan pintu.
Untung aja....
Tetap semangat dan dengan mengacungkan jempol, memberi tanda bahwa dia baik-baik saja, dilihat dari luar kaca kamar isolasi.
Padahal mukanya gosong dan tangan diperban, aku juga melihatnya di acara mata rantai antv. Istrinya juga begitu tegar ketika diwawancarai mengenai perasaannya ketika dikabarin bahwa suaminya adalah salah satu korban malapetaka itu.

Salut...kepada Pak Dadang dan keluarganya yang tetap semangat dan tidak menunjukkan kesedihannya didepan orang banyak.
Padahal pastinya kesedihan yang sangat mendalam dihati beliau.


"Itu bukan hari naasku, tapi hari keberuntunganku. Buktinya Allah masih memberika keselamatan padaku", ungkap Pak Dadang.

Kata-kata yang begitu menyentuh, betapa bersyukurnya beliau, walaupun diberikan cobaan yang begitu berat.

Aku jadi harus banyak belajar dari beliau, betapa kita harus banyak bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang Allah berikan.
Dibalik cobaan yang Dia berikan, kita harus ambil hikmah yang baik dibalik semua itu.

Lebih banyaklah mengingatNYa dan berdoa supaya kita selalu diberikan kebaikan dalam segala hal.


Amien..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar